Di depan sebuah SD di kaki bukit boko, berserakan sampah bekas kotak susu UKS. Kuning persegi panjang ringsek terinjak-injak setelah disedot isinya oleh anak-anak yang butuh tambahan gizi(sok puitis :P ). Saya jadi ingat jaman saya SD dulu…
Dulu saya tinggal di Ngropoh, Condongcatur, beberapa ratus meter tenggara polda DIY. Sekolah di SD Muhammadiyah Condongcatur , sekolah swasta favorit terbaik membanggakan tempatnya anak-anak orang kaya sekolah. Lokasinya di dekat lapangan gorongan, di samping gedung UPN Veteran pinggir ringrot lor.
Karena saya bukan anak orang kaya yang punya mobil dijemput supir, saya harus pulang sendiri jalan kaki. Dalam perjalanan pulang saya selalu melewati SD lain, sd negri. Banyak temen gaul (eh?) saya di rumah yang sekolahnya di SD itu, tapi saya lupa nama SDnya. Di depan sekolah negri itu, berserakan bekas kotak susu sekolah, bantuan dari pemerintah US(United States Amrik).
Di sekolah saya tidak pernah ada pembagian susu sekolah gratis. Yang sering ada hanya promosi dari Milo atau produk susu lain, bagi-bagi sampel di gelas kecil. Kalo mau lebih, harus beli. Waktu itu saya pikir hanya sekolah negri yang dapat bantuan susu sekolah. Mungkin murid-murid tempat saya sekolah dulu dianggap sudah minum susu setiap hari, sehingga bantuan susu sekolah dianggap menggarami lautan. Mungkin karena itu nggak pernah ada susu gratis dibagikan di sekolah saya.
Karena saya bukan anak orang kaya punya mobil dijemput supir, dan karena uang beli susu sudah dihabiskan untuk beli Milo yang dimonopoli adik saya yang berdampak saya tidak pernah minum susu, maka saya hanya bisa memandang dengan rasa kepengin ketika pulang sekolah agak pagi dan melihat anak-anak SD yang saya lewati minum susu. Dulu, waktu saya masih SD….
{ 03/05/08 11:38 }
Habis maghrib sepulang dari masjid, duduk-duduk sebentar di lincak. Sekilas mata melihat sebuah gantungan kunci yang tampak aneh di tas milik Ndoro (calon) Guru Putri. Di kepala, pikiran ini bunyi mentang-mentang kuliah pendidikan sejarah, gantungan kuncine prasasti Hammurabi
.
Karena penasaran akan kebenaran penglihatan mata, saya dekati tas itu dan terbukti bahwa mata ini agak rabun, pencahayaan ruangan kurang, atau mungkin pikiran saya yang macam-macam. Gantungan kunci itu cuma suvenir dari singapur.
{ 31/03/08 16:03 }
Libur nyepi, seharian di rumah. Sejak pagi ada seekor tawon yang berjalan putar-putar nggak jelas. Seperti mau terbang tapi seperti kesulitan. Sempat lompat dan mengepakkan sayap tetapi hanya berhasil terbang beberapa sentimeter, jatuh lagi.
Waktu mengambil foto, aku belum memperhatikan kalo tawon itu sudah kehilangan tarsusnya. Entah karena tercantol di sesuatu atau kecelakaan. Mungkin juga karena bertarung dengan Lalat Perompak. Beberapa hari sebelumnya aku melihat lalat perompak yang menantang coro, siapa tahu lalat itu juga menantang si tawon dan berhasil menyematkan gelar “tawon buntung” pada rivalnya. Entahlah
Habis kuambil gambarnya, tawon itu tidak lagi kuperhatikan. Biar saja dia berputar-putar dan menabrak kaki-kaki yang menghalangi jalurnya. Hampir pasti dia akan mati, kelaparan atau kelelahan.
Kalau saja malam atau esoknya dicari-cari, barangkali akan ketemu mayatnya. Itu kalau belum tersapu atau si tawon tidak dimakan cicak.
{ 15/03/08 15:33 }
lebih lama«